
Paviliun Parsavika resmi diluncurkan di Indonesia Design District (IDD), PIK 2, Tangerang. Kolaborasi strategis ini digagas oleh PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE), Saint-Gobain Indonesia, Parongpong RAW Lab, dan Viro sebagai wujud sinergi lintas sektor yang menghadirkan inovasi material ramah lingkungan, teknologi modular, dan desain berkelanjutan.
Lebih dari sekadar pameran, Parsavika menjadi tonggak penting yang menegaskan bahwa kolaborasi mampu melahirkan solusi nyata untuk masa depan yang lebih bersih, adil, dan berdaya saing. Nama PARSAVIKA sendiri memiliki filosofi mendalam: PAR berarti setara, melambangkan kontribusi sejajar antaranggota konsorsium; SAVI berasal dari bahasa Italia salvare yang berarti menyelamatkan, menegaskan komitmen untuk menjaga kelestarian lingkungan; dan KA dalam bahasa Jepang berarti rumah, simbol bumi sebagai rumah bersama yang wajib dijaga. Visi besar ini dirangkum dalam satu kalimat: “Kolaborasi setara untuk menyelamatkan rumah kita bersama.”
Acara peluncuran berlangsung meriah dengan dihadiri oleh arsitek, desainer, praktisi konstruksi, akademisi, komunitas kreatif, serta media. Rangkaian kegiatan dibuka dengan talkshow bertajuk “Membangun dengan Kesadaran Berkelanjutan”, menghadirkan Rendy Aditya Wachid selaku konseptor Parsavika, Jacob Gatot Surardjo yang memaparkan konsep placemaking untuk revitalisasi, serta Rahmat Indrani dengan gagasan redu house. Momentum ini dilanjutkan dengan penanaman pohon sebagai simbol komitmen kolektif terhadap pembangunan berkelanjutan oleh perwakilan keempat mitra.
Dalam kolaborasi ini, setiap mitra menghadirkan kontribusi nyata sesuai keahliannya. Saint-Gobain Indonesia memperkuat strategi global menuju net zero 2050 melalui semen rendah karbon, penerapan Life Cycle Assessment (LCA), serta praktik ekonomi sirkular yang diimplementasikan dalam material fasad ramah lingkungan. WEGE menyajikan teknologi modular MoLi (Modular Lite) berbasis rangka baja SS400 bersertifikat TKDN yang efisien, hemat waktu, dan mendukung target Net Zero Emissions 2060. Parongpong RAW Lab memperkenalkan Prototiles®, material arsitektur inovatif
berbasis limbah plastik, jaring nelayan, puntung rokok, hingga ampas kopi yang membuktikan bahwa limbah dapat menjadi solusi bernilai tinggi bagi sektor konstruksi. Sementara itu, Viro menghadirkan produk anyaman dan atap jerami sintetis tahan cuaca, fleksibel, dan dapat didaur ulang, yang memadukan estetika tradisional dengan teknologi modern.
Paviliun Parsavika sendiri dirancang oleh arsitek kenamaan Avianti Armand dan Setiadi Sopandi, dengan penekanan pada integrasi inovasi material dan modular dalam satu kesatuan ruang yang estetis, fungsional, dan ramah lingkungan. Para tamu undangan juga berkesempatan mengikuti tur paviliun untuk melihat lebih dekat berbagai detail material hasil kolaborasi ini.
Melalui Parsavika, para mitra berharap dapat meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya ekonomi sirkular, memperkuat ekosistem desain berkelanjutan di Indonesia, serta membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara dunia usaha, akademisi, komunitas, dan pemerintah. Kehadiran Parsavika menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas sektor mampu menghadirkan inovasi berdampak, membawa perubahan, dan menawarkan solusi berkelanjutan bagi masa depan.